Tuesday, November 19, 2013



…Kalau saja hidup tidak berevolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik, maka… tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu. Satu detik yang segenap keberadaannya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa kamu rela membatu untuk itu. Akan tetapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.
 

Surat yang Tak Pernah Sampai (2001); DEE

Monday, October 21, 2013

pola pikir

Gue gak pernah bisa pake kata-kata yang puitis atau menggunakan diksi yang cukup kompleks dalam mengutarakan pikiran gue. Jadi; saat ini gue bingung harus dengan cara apa menggambarkan situasi yang sedang gue rasakan. Karena sesungguhnya gak sekali gue kayak gini. Kasarnya; gue sedang merasa benci terhadap lingkungan sekitar gue dan membuat mereka membenci gue. Menurut gue; saat ini; sendiri dan menjadi individualis sejati adalah satu-satunya cara yang dirasa paling sesuai. Gue gak ngerti apa yang salah; lingkungan gue atau diri gue; tapi kayaknya kemunginan kedua peluangnya lebih besar sih.

Kelas 12 merubah segalanya, termasuk pola pikir gue. Bukan, bukan merubah pola pikir jadi kompleks kayak orang-orang kebanyakan gitu......bukan samasekali. Gue justru mempunyai visi untuk membentuk pola pikir se-sederhana mungkin. Caranya? Menjadi careless-dan hanya peduli pada hal-hal tertentu yang memang secara universal orang-orang akan peduli pada hal itu (contoh : Teman yang sakit). Menurut gue, gak perlu ribet-ribet mikirin orang lain, karena pada kenyataannya kalau seringkali ada yang bilang "gausah peduli sama hal-hal yang belum tentu peduli sama kita" itu benar adanya. Pada kenyataannya memang hanya segelintir orang yang benar-benar peduli. 

Gue mengaplikasikan pola pikir sederhana tersebut dalam banyak hal; misal? Gue gak tertarik untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan orang lain; sebut saja gosip terbaru yang beredar.Menurut gue, hal-hal seperti itu bukanlah sesuatu yang cukup penting untuk diberikan ruang pada otak gue. Masih banyak hal yang jauh lebih penting lainnya yang bisa gue pikirkan. Dan kembali ke pernyataan sebelumnya; secara universal kalau lu bertanya kepada orang lain akan hal-yang-beredar tersebut,  toh gak akan semuanya peduli kan? Jadi kesimpulannya sekali lagi; hilangkan kepedulian yang akan menambah beban pikiran kalau memang orang yang peduli akan hal tersebut pun sifatnya tidak secara universal.

Gue gak tau apakah kedepannya akan berjalan seperti ini ataupun tidak. Gue gak bisa bilang gue merasa nyaman dengan kondisi seperti ini. Tapi gue juga gak bisa jamin kalau gue bisa lepas dari situasi dan posisi seperti ini. Yang jelas saat ini gue (berusaha) menikmati setiap prosesnya dan (berusaha) hidup se-bahagia mungkin.

Friday, October 11, 2013

dari situ saya belajar;

kalau setiap hal memang punya waktunya masing-masing; untuk terjadi; untuk dirasakan; untuk digapai; untuk...apapun. Karena ketika waktunya belum tepat, se-hampir-terjadi apapun itu, kalau memang belum saatnya, tidak akan pernah terjadi. karena sekali lagi; rencana-Nya memang tidak pernah bisa ditebak.

kalau setiap hal tidak semestinya berjalan sesuai dengan apa yang dibayangkan; diharapkan.

kalau setiap hal selayaknya diterima sebagaimana adanya. karena kita tidak selalu tahu sebab-akibat dari hal yang telah terjadi.

***
kadang, kita mempelajari suatu kejadian dan tahu apa kesalahannya, tapi tidak berfikir untuk mencegah terjadinya kembali kesalahan tersebut. semoga kali ini; saya bisa paham; kalau setiap kejadian; setiap kesalahan; memang selayaknya dijadikan pelajaran untuk masa-masa mendatang agar tidak terulang. bukan hanya sekedar tahu akan hal tersebut tetapi tidak pernah berusaha untuk mencegah terjadinya kembali kesalahan yang pernah terjadi. semoga.

Saturday, September 28, 2013

September ke-17

September selalu punya caranya; untuk diingat; untuk dijalani; untuk ditebak.
September kali ini jadi salah satu yang tidak akan pernah gue lupain; sampai kapanpun. Tiap tahun, gue memang tipikal orang freak yang heboh menjadi reminder ulang tahun gue sendiri hahahahaha, tapi ya bercanda doang. Gakpapa, setidaknya orang orang inget :')

Hari ini; buat gue; terlalu panjang untuk diceritakan. Yang jelas; terimakasih untuk do'a-do'anya orang-orang diluar sana, terimakasih untuk ayah dan ibu yang tahun ini jadi orang yang pertama ngucapin ketika bangun tidur.

Dan; makasih, makasih, makasih. Untuk waktunya;usahanya;dan segalanya. Gue bersyukur punya lingkaran yang diisi orang-orang kayak kalian. Makasih banyak; Aussie, Ala, Ola, Vinka, Prilli, Meivy, Adul, Amira, Odi, Alvin, Rafi, Galura, Patek, Yasin, Abuy, Hafiz, Jodie, Adam. Semoga kalian sukses di ranahnya masing-masing ya! Aamiin

Dan terimakasih. Untuk yang akhirnya; mengukir senyum paling lebar tahun ini. Dalam diam sekalipun; lu memang selalu membuat orang lain kagum dengan cara tersendiri.

Monday, September 16, 2013

Tentang September

September selalu punya ceritanya tersendiri. Buat gue; bulan kelahiran gue ini selalu membawa cerita berbeda tiap tahunnya. Yang pasti; semakin dan semakin kompleks ahahaha.

September pertama gue di Smansa bukanlah september yang mudah dilupakan. Masa-masa bahagia kelas 10 membuat gue ingin mengulang masa-masa tersebut. Walaupun gue gak inget banyak. Surprise ulang tahun pertama dari X-8 membuat september ke-15 di hidup gue cukup menyenangkan untuk diingat.

September ke-16 gue punya cerita yang terlalu banyak. Pacific; regenerasi. 2 hal yang sesungguhnya mengisi september gue tahun lalu itu menyisakan memori yang sangat banyak buat gue. Surprise CCK OSIS di H+1 naik fase CK jadi momen yang gak akan pernah gue lupain sampai kapanpun. Dan well; september kali ini melibatkan konflik batin yang membuat gue belum bisa melupakannya sampai detik ini. Tepat satu tahun lalu dari hari ini. Dan tepat satu tahun kurang satu minggu yang lalu. 2 hal yang bahkan; memorinya masih terekam dengan sangat jelas di dalam otak. September kali ini pun ditutup dengan salah satu momen yang cukup membuat gue terdiam untuk beberapa saat ketika mengingatnya.

September ketiga di Smansa membawa cerita lain yang cukup kompleks dibanding dua september sebelumnya. Dan saat ini; gue sedang menikmati september dengan alurnya yang..... sejauh ini dirasa cukup berlika liku. Perang pikiran dengan diri sendiri sepertinya jadi tema yang mensponsori bulan ke-9 di tahun ini. Gue belum tahu pasti akan berakhir dengan apa september ke-17 gue, semoga dengan hal baik yang membuat senyum ketika mengingatnya. September kali ini, posisi gue berubah dari yang sebelumnya orang yang di-didik menjadi yang me-, dalam konteks diluar sekolah. Sejauh ini september membawa alur yang membuat gue terlalu nyaman untuk menyimpannya sendiri, tanpa berbagi kepada orang lain. Dan prinsip gue kalau 'mengapa-berbicara-kalau-diam-masih-memungkinkan' membuat menulis menjadi sarana untuk menuangkan segala pikiran. Hari ini tepat memasuki hari pertama paruh kedua bulan September. Semoga alurnya akan selalu baik dan ditutup dengan baik pula.

random part 2.

Semenjak kelas 12, buka laptop sudah bukan menjadi agenda rutin gue setiap malam. Boro-boro buka laptop, kadang nyampe rumah langsung tidur kalau pulang les.
Jadi; secara tidak langsung gue sangat jarang membuka dashboard blogger, begitu juga dengan menulis tulisan tulisan gak jelas di dalamnya.
Sejauh ini, sarana menulis gue adalah di buku front berwarna hitam yang jadi buku sakti sejak kelas 11, walaupun udah ketumpahan air 3 kali.....
Berpindah sarana menulis cukup menyenangkan. Gue adalah tipikal orang yang mudah bosen kalau belajar. Dan pelarian gue adalah menulis. Apapun konteksnya yang saat itu sedang terlintas di pikiran gue.

***

Ngomong-ngomong belajar di kelas, gue sendiri masih belum bisa menentukan sistem belajar yang baik untuk diri gue.
Sejauh ini; belajar sendiri, sebenar-benarnya sendiri, masih menjadi cara ternyaman gue untuk belajar. Gak 100% sendiri sih..........ketika gue gak ngerti pasti gue butuh orang lain.
Tapi ya gitu; sejauh ini gue memilih untuk menjalankan masa-masa yang katanya bakal diinget banget ini; cuma sendiri.
Kalau anak kelas suka bilang gue ansos (re: anti sosial) karena gue selalu duduk di paling belakang dan gapernah nyatuin meja kalau lagi belajar; gimana ya....ya pada kenyataannya gue merasa metode seperti ini jadi cara paling efektif untuk belajar bagi gue. Walaupun gue sendiri belum tahu apakah metode seperti ini adalah yang terbaik atau bukan.
Yang jelas, gue akan berusaha lebih keras lagi untuk masa masa tahun terakhir ini, walaupun gue gatau bagaimana medan yang akan dihadapi nantinya; semoga niat meluruskan semuanya.

***

Kelas 12 sejauh ini terlalu.........unpredictable. Lika-likunya terlalu sulit ditebak.
Yang penting; semoga do'a untuk selalu dilancarkan di tahun terakhir gak pernah putus. Aamiin.

Sunday, September 15, 2013

random tengah malam.

Dari dulu, gue bukanlah pembaca situasi yang baik. Dalam konteks apapun itu.
Sayangnya, gue memang gak pernah berusaha untuk memperbaik kondisi dengan belajar bagaimana-untuk-menafsirkan-situasi-dengan-baik.
Gue adalah tipikal orang yang selalu berpikir kenapa-harus-bicara-ketika-masih-bisa-untuk-diam. Lebih tepatnya; terlalu takut kalau pandangan gue ekstrim;beda;bersebrangan dengan apa yang sebenarnya terjadi di mata orang lain. Maka dari itu, gue selalu berpikir untuk diam selama itu masih memungkinkan.
Dan pada kenyataannya; gak sekali pandangan gue terlalu bersebrangan, dan pada akhirnya membuat mengeluarkan pandangan menjadi sesuatu yang gue terlalu malas untuk lakukan, karena jujur, berada di satu pihak yang berbeda dan ditepis berkali-kali itu gak enak.

Menjadi pengamat; pendengar; dan penyimak dari segala yang terjadi di depan mata gue masih menjadi pilihan gue untuk saat ini.
Gue berusaha hidup se-bahagia mungkin sih. Kalau seperti ini dirasa nyaman, mengapa tidak?
Dan kadang, pengamat gak selalu tahu segala hal secara keseluruhan.
Pada kenyataannya pun, terkadang memang butuh untuk melepas diri dari hal-hal tertentu. Setidaknya mengurangi beban pikiran; diluar pikiran tersebut baik ataupun buruk.